Bagaimana seandainya hari ini adalah hari terakhir kita? Sebuah renungan untuk meluruskan niat dan memperbaiki amal.
Bismillahirrahmanirrahim. Setiap pagi yang kita jumpai sesungguhnya adalah pinjaman waktu yang belum tentu kembali esok. Mengingat kematian bukanlah ajakan untuk berputus asa, melainkan undangan untuk menjalani hidup dengan lebih sadar dan bermakna.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan kita untuk banyak mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ
"Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan (yaitu kematian)."
HR. At-Tirmidzi, An-Nasa'i, dan Ibnu Majah
Bukan agar kita takut hidup, tetapi agar kita tidak lalai memanfaatkan waktu, dan agar harapan kepada rahmat Allah tumbuh bersama kesungguhan beramal.
Mari kita bertanya pada diri: andai hari ini kesempatan terakhir, amal apa yang ingin kita rapikan? Hubungan siapa yang ingin kita perbaiki? Maaf kepada siapa yang belum kita sampaikan?